Ketika Rasulullah Saw. Mengutus Ali bin
Abi Tholib dan mu'adz Bin Jabal agar mendakwahkan islam di negeri Yaman, Rasulullah memberi nasehat :
" mudahkanlah, dan jangan kau persulit, gembirakanlah dan jangan engkau persukar"
Begitulah nasehat dan fatwa singkat yang diberikan kepada dua orang sahabat tersebut. Hal ini dipesankan agar masyarakat berkenan menerima ajakan mereka ke jalan yang benar dan diridhoi Allah Swt.
Selaras pula dengan firman Allah :
" Ajaklah ( mereka ) kepada agama Tuhanmu, dengan kebijaksanaan dan ucapan yang baik, dan balaslah orang yang membantah kamu dengan balasan yang baik;
Sesungguhnya Tuhanmu adalah lebih tahu terhadap orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih tahu dengan petunjukNya yang benar ". ( An-Nahl: 125).
Maksud hadits Nabi Muhammad Saw. dan ayat di atas agar para Da'i dan mubaligh dalam menyebarkan ajaran Islam, berdakwah secara praktis serta menggunakan kebijaksanaan, bukan kekerasan dan paksaan belaka. Disamping itu dapat menggembirakan orang yang didakwahi, kemudian mereka mau menerima dengan rasa senang hati.
Para Wali dan Da'i di Indonesia berhasil dengan baik dalam berdakwah tanpa harus menimbulkan keresahan bagi bangsa Indonesia di zaman pra kemerdekaan, padahal bangsa Indonesia sebelum Islam datang, mereka memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda. Namun, setelah para Wali dan Da'i datang dengan membawa ajaran Islam, mereka menyambut dengan tangan terbuka dan senang hati. Penerimaan dengan baik ini, karena kebijaksanaan dan kepandaian para Wali dan da'i dalam menyampaikan ajaran Islam.
Sistem dan metode dakwah yang diberikan Allah dan Rasul-Nya itu, akan tetap relevan dan elastis di tengah perkembangan ilmu dan teknologi Serba canggih. Oleh karena itu dengan cara diatas lah kita sebagai Dai mendakwahkan dan menyebarluaskan ajaran islam dimana saja dan kapan saja secara baik dan benar. Sebagai realisasi dakwah yang baik dan benar, antara lain adalah harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta objek dakwah maupun kadar kemampuan mereka.
Sebagaimana firman Allah Swt :
" Allah tidak membebani kepada seseorang, kecuali sesuai dengan kadar dan kemampuannya". (Al-Baqoroh: 286).
Rasulullah juga menganjurkan:
" Berbicaralah kamu sesuai dengan akal fikiran mereka "
Nabi Muhammad Saw berhasil dengan gemilang didalam menyebarluaskan agama islam secara tuntas dan paripurna dengan metode di atas, disamping ketabahan dan kesabaran beliau dalam menghadapi berbagai ancaman dan godaan dari orang-orang kafir.
Al- faqir


No comments:
Post a Comment